REVIEW: LET IT SNOW [BOOK 2015]

Dimulai dari mogoknya kereta cepat di tengah-tengah badai salju, sampai ke shift pagi buta di Starbucks, 6 orang dengan latar belakang yang beda-beda akhirnya menemukan cintanya masing-masing.

Kurang lebih gambarannya kaya gitu sih kalau kalian baca buku yang memuat tiga cerita berbeda dan ditulis sama tiga writers yang beda pula. Kisah pertama The Jubilee Express yang ditulis oleh Maureen Johnson menyuguhkan kisah tentang Jubilee yang harus mengalami ‘bencana’ di malam Natal karena orang tuanya mendadak dipenjara dan ketidakpedulian sang pacar terhadap dia. Dalam perjalanan menuju Florida, kereta api yang dia tumpagi mogok di Gracetown. Dan dari sinilah hidupnya berubah. Pertemuan Jubilee dengan Stuart Weintrub di Waffle House akhirnya menambah daftar panjang petualangan cinta Jubilee. Dan Jubilee juga tahu rahasia Stuart yang selama ini bikin Stuart jadi orang paling patah hati di dunia. Maureen Johnson menuliskan kisah pertama dengan gaya bahasa yang ‘anak muda bange’ sehingga mudah dipahami. Sejujurnya saya paling suka dengan gaya tulisan dan cara penyajian Maureen di kisah ini karena semuanya simpel tapi memiliki arti yang sanggup membuat saya senyum-senyum sendiri.

Kisah kedua pun dilanjutkan dengan A Cheertastic Christmas Miracle karya penulis best seller John Green. Seperti karya-karya John Green lainnya, penulis satu ini menuliskan kisah kedua dengan plot yang cliche tapi tetap membuat betah pembacanya. Mengusung tema ‘persahabatan berubah jadi cinta’, John mengajak kita bertualang bersama dengan Tobin, Angie ‘The Duke’ serta sahabat Asia mereka, JP. Ide menghabiskan malam natal dirumah sambil nonton James Bond akhirnya berubah menjadi petualangan seru di tengah menembus badai salju Kota Gracetown, akibat ide gila salah satu teman koki mereka di Waffle House. Ternyata perjalanan menembus badai salju bikin dua orang diantara mereka sadar akan perasaan satu sama lain dan nggak bisa mengelak kalau mereka saling jatuh cinta. Dengan plot yang sudah banyak digunakan dalam pembuatan cerita fiksi, John Green masih sangat mampu mengajak pembaca untuk seolah-olah masuk ke dalam dunia imajinasi tersebut. Rating saya untuk kisah dari John Green 8/10.

Buku ini ditutup dengan kisah yang ditulis oleh Lauren Myracle, yang diberi judul The Patron Saint of Pigs. Kehidupan Addie sang barista Starbucks berubah drastis sejak hubungannya dengan sang kekasih, Jeb Taylor sudah mulai unstable. Missunderstanding yang terjadi diantara keduanya membuat malam natal dua sejoli ini lebih buruk daripada badai salju yang melanda Amerika saat itu.Hari-hari menjelang natal Addie yang kacau, akhirnya ditutup dengan ‘keajaiban’ natal untuk hidup Addie dan orang-orang di sekitarnya. Cerita ketiga memberikan moral message dimana kita seharusnya sadar bahwa perubahan untuk diri sendiri adalah baik untuk kita kedepannya. Lauren menyisipkan pesan untuk selalu menekan keegoisan diri sendiri dalam kondisi apapun.

Setiap tokoh dan cerita di dalam buku ini memiliki korelasi satu sama lain sehingga akan membuat kegiatan membaca Let It Snow pun makin seru. A bit spoiler, meskipun buku ini memiliki ending yang bahagia untuk setiap chapternya, tapi cara mengakhiri setiap ceritanya adalah dengan happy ending yang berkelas 🙂 so, overall this book is incredibly romantic and I’d love to give my thumbs up! 3 writers, 3 amazing stories and 3 beautiful-teen-relationships.

Rating: 8.9/10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s